The Mind Shall Vanquish the Sword
– Sima Yi, Dinasty Warrior 6

Mungkin inilah adalah perkataan paling tepat dimana pikiran bisa menghancurkan pedang yang berkilau. Kisah bermula dari sebuah pedesaan di utara China pada zaman Dinasti Ming. Hiduplah seorang pencuri bernama Xiao Long. Dia mencuri dari orang kaya dan membagikannya ke rakyat miskin di desanya. Karena keseringannya mencuri emas orang kaya dan membagikannya ke rakyat miskin, tentara kerajaan sering mengejarnya tetapi Xiao Long selalu lolos dari kejaran tentara.

Karena kecerdikan dan kepintarannya dalam meloloskan diri, sang kaisar ingin merekrutnya untuk menyerang suku Kano yang merupakan suku dari bangsa Mongol. Tentara kerajaan pun datang ke rumah Xiao Long. Xiao Long yang mengira bahwa pasukan kerajaan akan menangkapnya segera menyiapkan jebakan. Saat tentara kerajaan masuk, sebuah panci berisi air cucian beras jatuh dari atas pintu dan mengenai 2 tentara kerajaan yang dikirim oleh kaisar. Lantas kedua tentara itu pingsan karena ditimban oleh panci yang lumayan besar.

Xiao Long pun mengambil obat dan mengobati kedua tentara tersebut. Bercampur kesal dan marah, tentara tersebut berkata bahwa kaisar ingin menemui Xiao Long. Xiao Long pun dengan senang hati menerima ajakan kedua tentara itu. Tibanya di Bei Jing ( ibukota Dinasti Ming ), Xiao Long pun memberi hormat kepada kaisar. Sang Kaisar pun berbincang kepada Xiao Long di sebuah kamar tertutup. Xiao Long mendengar rencana kaisar tentang perekrutannya untuk menjadi Kepala Tentara saat menyerang suku Kano.

Kaisar pun berjanji akan memberikan emas yang banyak apabila Xiao Long berhasil membawa kepala pemimpin Suku Kano ke tangan Kaisar. Kaisar juga berjanji apabila kepala sang pemimpin suku Kano sampai ke tangan Oda Nobunaga, Xiao Long akan menjadi konsulat Dinasti Ming di Owari.

Xiao Long yang sudah kesenangan atas semua perjanjian itu, merasa ingin segera menyerang suku Kano. 5 bulan setelah perbincangan dengan Kaisar, para pasukan kerajaan siap menyerang pemukiman Suku Kano. Tetapi malangnya, Suku Kano mengetahui serangan ini sehingga mereka telah siap lebih dahulu.

Suara drum mulai berbunyi dan pasukan kerajaan maju dengan kuda-kudanya, infanterinya, dan juga meriam.Xiao Long dengan gagah berani maju ke depan dan meninggalkan tentaranya di belakang. Xiao Long yang memacu kudanya sendiri tidak tahu bahwa tentara kerajaan telah berubah haluan ke arah jebakan suku Kano.

Xiao Long baru sadar setelah melihat dari bukit-bukit tetapi dia tidak dapat memberitahu pasukan kerajaan karena jarak dia dengan pasukan kerajaan sekitar 5 km. Dia pun mencari akal dan akhirnya Xiao Long mendapat sebuah ide yang sangat cemerlang. Xiao Long pun mengambil sebuah kayu dan membuat sebuah kembang api. Xiao Long mengetahui bahwa kembang api buatannya hanya memercikan sedikit api sehingga tidak bisa melukai. Xiao Long pun menembakkan kembang apinya diatas bukit itu kearah pasukan kerajaan. Pasukan kerajaan yang sedang berjalan kearah jebakan terkejut dengan percikan cahaya dari arah timur. Mereka pun kacau balau dan segera mundur. Sedang di perkemahan suku Kano, mereka menunggu pasukan kerajaan untuk masuk kearah jebakan tetapi tetap saja pasukan kerajaan itu tidak datang.

Tiba-tiba, sebuah meriam dari arah Barat ditembakkan dan mengenai salah satu perkemahan suku Kano. Dari arah lain muncul serangan dadakan dari pasukan kerajaan yang sudah mengetahui adanya jebakan. Pasukan kerajaan pun membantai habis suku Kano dan kepala sang pemimpin dipenggal dan dibawakan ke Kaisar.

Kaisar pun menghargai kerja keras para tentaranya tetapi perhatiannya tertuju pada Xiao Long yang telah berhasil memperingatkan pasukannya untuk mundur dan tidak masuk ke jebakan. Kaisar pun memberinya satu karung besar emas dan keesokan harinya, Xiao Long pergi ke Owari untuk menyerahkan kepala pemimpin suku Kano kepada Oda Nobunaga. Sampai akhir hayatnya, Xiao Long bersama istrinya hidup di Owari dan Xiao Long pun menjadi konsulat Dinasti Ming disana.

THE END

By : Daniel Lim